Senin, 12 Juli 2010

JABATAN ADALAH AMANAH

Pemilihan umum Kepala Daerah di seluruh persada nusantara kini terselenggara semakin seru. Konstalitas politik yang saling terkam,saling cakar, saling tendang dan mungkin juga saling rangkul.
Hiruk pikuk pilkada senantiasa menyertai agenda lima tahun pesta demokrasi. Semangat berkompetisi dengan dilandasi sportivitas, disisi lain ada nuansa saling menyikut, saling menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara, demi untuk meraih jabatan.
Aspek penting dalam pemilihan Kepala Daerah secara langusng adalah para pemilih bias secara langsung menyatukan aspirasi, memilih Kepala Daearah sesuai dengan keinginannya.
Menjadi pemimpin bukan semata-mata kemenangan karena terpilih, tetapi lebih itu, sebagai a,manah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Pimpinan adalah cerminan dari keadaan masyarakatnya. Pemimpin yang baik adalah dia yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya. Sedangkan masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pimpinan yang dapat menyalurkan aspirasi mereka.
Memilih adalah amanah jabatan yang diberikan oleh pemilih dan diterima oleh yang terpilih juga amanat.
Dalam Al-Quran ada perintah menunaikan amanat kepada pemiliknya, disusul dengan perintah menetapkan putusan yang adil, kemudian dilanjutkan dengan perintah taat kepada Allah, Rasul dan Uli Amr ( mereka yang memiliki wewenang mengelola urusan masyarakat yaitu para pejabat pemerintah ):




Al Quran surat An-Nisaa Ayat 58.

Perurutan uraian ayat tersebut menjadi petunjuk bahwa jabatan serta wewenang kebijakan dan pengelolaan, merupakan amanat yang bersumber dari Allah, melalui orang banyak atau masyarakat dan bahwa mereka mempunyai hak untuk memilih sendiri siapa yang mereka inginkan untuk maksud tersebut.
Dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW bersabda: “Jika amanah disia-siakan tunggulah saat kehancuran”.
Sahabat bertanya,” Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?”
Beliau menjawab: Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR Bukhari ).
Menurut Imam Al-Ghazali, pangkat dan kekuasaan adalah saudara kembar harta dan kekayaan. Keduanya bagaikan duda sisi mata uang yang sama . Dan Keduanya merupakan unsure utama kenikmatan dunia. Hanya penguasa yang beriman, amanah, jujur dam adil yang akan mampu menepis godaan kekuasaan dan kekayaan dari potensi penyalahgunaan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Salah satu tanda orang beriman adalah apabila mendapatkan amanah berupa kekuasaan, ia memanfaatkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan hamba-hambaNya. Baginya, kianat terhadap amanah bukan saja merupakan pengkhianatan terhadap rakyat, namum juga pengkhianatan terhadap Allah SWT.
Khalifah Abu Bakar dalam pidato pertamnya sebagai pemimpin umat membuka diri untuk dikoreksi jika ia bertindak atau mengambil kebijakan yang tidak tepat. Demikian pula dengan khalifah Umar bin khatab. Ia siang diingatkan dengan tajamnya pedang jika kepemimpinannya melanggar aturan.
Jabatan adalah amanah. Ketika Abu Dzar meminta suatu jabatan, Nabi Muhammad SAW bersabda:”Itu adalah amanah, ia adalah nista dan penyesalan di hari kemudian, kecuali yang menerimanya dengan hak (sesuai aturan mainnya, dan menunaikan kewajibannya )”
Dalam salah satu sabdanya, rasulullah SAW menyebut tiga dari sekian sifat yang harus dimiliki oleh pejabat yaitu ketaqwaan yang menangkal pelanggaran, kelaparan dada yang melahirkan simpati, dan kemampuan memimpin sehingga menjadi” Bapak bagi anak-anaknya”.

Allah SWT berfirman dala surat Al Baqarah ayat 269;

“Allah menganugrahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-NYa dalam barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”
Hikmah dalam ayat tersebut berate kebaikan yang banyak, yang dianugerahkan Allah SWT kepada seseorang sehingga dirasakan manfaatnya, baik oleh dirinya sendiri.,keluarga, masyarakat, nusa,bangsa, agama dan juga alam semesta. Ayat tersebut menjelaskan pula bahwa orang yang banyak kebaikannya itu termasuk kelompok cendikiawan atau ulil albaab.
Kecendikiawanan seseorang itu hanya ditentukan oleh ilmunya yang banyak, tetapi juga oleh kebaikan-kebaikan dari ilmu yang dimiliki seseorang . Demikian pula halnya dengan pemipin yang memiliki hikmah. Dari kepemimpinannya itu dapat dirasakan kebaikan, kemaslahatan da keadilan oleh masyarakat yang dipimpinnya.
Paling tidak terdapat tiga ciri pemimpin yang memiliki hikmah, sebagaimana dijelaskan para ulama ketika menafsirkan ayat 269 surat Al – Baqarah tersebut diatas, yaitu: Pertama kasrotun ilmi , maksudnya memiliki berbagai macam pengetahuan. Dianataranya ilmu yan berkaitan dengan keahlian tertentu, juga ilmu-ilmu humaniora, misalnya teknik berkomunikasi dan psikologi massa. Mampu mengendalikan diri dari hidup mewah di saat masyarakat sedang mengalami berbagai macam kesulitan hidup
Kedua kasrotun hilmi: memiliki kesabaran dan kedewasaan yang matang, tidak mudah mengeluh dan tidak mudah orang lain. Pemimpin yang memiliki hikmah justru akan menjawab dan membalas setiap ketidakbaikan dengan kebaikan, Kritik, hujatan dan cemoohan di balas dengan mawas diri dan kerja keras untuk membuktikan ketidakbenaran atas kritik, hujatan dan cemoohan tersebut.
Ketiga kasrotun unah memiliki kehati-hatian dan kewaspadaan, baik dalam ucapan , sikap maupun tindakan. Ucapannya terukur, jelas dan gamblang. Sikapnya simpatik terhadao masyarakat yang hetrogen. Demikian pula tindakannya selalu memperhatikan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Semualarut dan menyatu dalam kepribadiannya yang utuh dan tangguh
Pada saat bangsa kita sekarang ini sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang kompleks dan berat, keberadaan pemimpin yang memiliki hikmah merupakan sebuah kebutuhan dan keniscayaan, agar harmonis kehidupan yang melahirkan ketenangan, ketentraman, aman, dan damai segera bisa diwujudkan.
Keteladanan pemimpin, baik dipusat maupun di daerah, yang ada di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, menjadi dambaaan bagi rakyat yang dipimpin. Sebab satu teladan itu lebih efektif dari seribu nasehat.Dan lisan perbuatan itu lebih faseh dari pada lisan perkataan.
Satu contoh keteladanan dari Ali bin Abi Thalib menunjukan betapa keteladaanan itu sangat efektif menciptakan pranata sosial yang dicita-citakan.
Syahdan, pada suatu hari Aqil datang kepada Ali bin Abi Thalib , ia menyambut gembira kedatangan aqil sang kakak itum Ketika tiba waktu makan malam, Aqil tidak melihat apa apa diatas meja selain roti dan garam. Ia terkejut melihat kenyataan tersebut, karena kedatangannya untuk meminta bantuan kepada Ali demi menutupi utangnya, Ali berkata:”tunggu sebentar, aku akan ambilkan harta milikku”. Aqil mulai kesal dan berkata,” Bukankah Baiutul Mal ada di tanganmu? Mengapa engkau memberiku dari harta milikmu sendiri?” . Ali menjawa,”Kalau kau mau,ambilah pedangmu dan aku akan mengambil pedangku, lalu kita keluar bersama menuju ke kawasan Hairah yang di dalamnya terdapat pedang-pedang kaya, kita masuki rumah salah seorang dari mereka dan kita ambil harta kekayaannya”
Aqil menolak dan berkata,”Memangnya aku datang untuk merampok!”
Ali menjawab,”Mencuri harta ekayaan seorang dari mereka itu masih lebih baik dari pada engkau mencuri harta milik semua kaum muslim”
Demikianlah keteladanan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hal keteladanan, Allah SWT menganjurjan kepada kita untuk selalu berdoa,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada istri-istri kami keturunan yang menjadi penenang hati bagi kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa,”(Qur’an Surat Al Furqan ayat 74)


Adapun maksud ”imam bagi orang orang yang bertaqwa”ialah menjadi teladan bagi mereka dalam hal kebaikan. Seseorang tidak akan bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain dan bertaqwa kepada Allah
Relevansi ketaqwaan dan kepemimpinan disini dijelaskan oleh obrahim An-Nakha’i bahwa orang yang bertaqwa tidak berhasrat meminta kepemimpinan kepad Allah, tetapi mengaharpkan teladan yang baik dariNYa Karena dengan keteladanaan kepemimpinan itu akan datang dengan sendirinya

Selasa, 26 Agustus 2008

Mudik

Setiap kali menjelang Idul Fitri, kita ingat mudik. Banyak penduduk kota yang kembali ke kampung halaman, tempat mereka dilahirkan. Bersilaturahim sambil berlibur,berekreasi, bernostalgia, bahkan kemungkinan juga sebagaimana disinyalir oleh para pengamat , sebagian para pemudik itu memamerkan Sukses yang telah dicapai dalam perantauan.
Telepas dari motif apa yang mendorong mereka mudik, sepanjang masih dikaitkan dengan silaturahmi, merupakan kebiasaan atau tradisi yang mengandung nilai-nilai ajaran agama.
Banyak terjadi hubungan kekeluargaan antara mereka yang berada di perantauan dengan saudaranya di kampung sedemikian renggang, bahkan terputus, karena berbagai faktor. Dengan mudik yang bermotifkan silaturahmi, akan terjalin kembali hubungan tersebut, akan terhimpun kembali yang sekian lama tersentak, akan tersambung kembali apa yang selama ini putus. Rasulullah SAW bersabda : “ Tidak bersilaturahim ( namanya ) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang ( dinamakan bersilaturahim adalah ) menyambung apa yang putus “ ( HR Bukhari )
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, “mudik “ artinya berlayar, pergi ke udik (hulu sungai , pedalaman ); pulang ke kampung halaman, menjelang hari lebaran……….. .Resiko bagi orang yang mudik; menyongsong arus, menyosong pasang, rintangan dari kiri dan kanan, namun diteruskan juga. Suka duka para pemudik tentu saja beragam
Setiap tahun, stasiun-stasiun TV menyajikan kembali “ Laporan pandangan mata “ arus mudik, dengan tema “ Macet Pantura “, kemacetan lalu lintas darat sepanjang pantai utara Pulau Jawa, sehubungan dengan mudik tradisional untuk reuni keluarga di kampung halaman. Dalam tayangan ini kita menyaksikan kepadatan lalu lintas perjalanan di stasiun kereta api, terminal bus, pelabuhan ferry, dan Bandar udara “ Elit “ ekonomi memenuhi bandara untuk berlibur ke luar negeri. Laporan pandangan mata arus mudik itu ditujukan kepada siapa ? Apabila ditujukan kepada pemudik, memberi informasi kepada motoris atau auto mobilis; tempat terjadi kemacetan, jalur yang relatif lancar,, jalur alternatif, kecelakaan, air bah, tanah longsor, pos polisi, layanan kesehatan, begkel dan sebagainya.
Tetapi sayang, kebanyakan sepeda motor dan mobil tidak membawa TV portable atau mini. Untuk mereka lebih penting informasi melalui radio, ataupun petunjuk-petunjuk dari polisi lalu lintas. Penerangan di terminal bus tentang harga karcis penting sekali; karena pungutan dalam bus di tengah jalan biasanya hanya “ akan ditindak sampai tuntas”
Mudik dengan segala resikonya memang melibatkan segala lapisan masyarakat. Menteri, Dirjen dan pejabat lainnya’ perlu memeriksa” langsung ke berbagai terminal, station, pelabuhan, terminal bus dan kereta api. Mereka juga perlu mengunjungi pasar-pasar ibu kota untuk berbincang-bincang tentang harga telur dan cabe merah keriting dengan pedagang pedagang eceran.
Mudik memang membawa berkah……………………..
Karena didorong oleh semangat silaturahim, maka dari tahun ke tahun semakin menggairahkan bagi para perantau. Walaupun kadang merasa sengsara, namun membawa nikmat karena akan bertemu denga keluarga, tetangga, dan sahabat di kampung
Mudik dalam rangka menyambut Idul Fitri adalah hari gembira yang berganda: gembira karena lebaran, dan gembira karena pertemuan. Dan tidak ada salahnya seseorang yang mudik menampakkan sukses yang diraih ini asalkan tidak mengandung unsur pamer, sombong dan pemborosan sehingga memancing timbulnya kecemburuan sosial.
Menampakkan sukses merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW .”Allah senang melihat hasil nikmatnya ( ditampakkan ) Oleh hambanya-Nya” Dalam surat Adh Dhuha ayat 11 dijelaskan “ adapun nikmat Tuhanmu hendaklah engkau syukuri dan sumbangkan “ Sebagian mufasir memahami ayat ini sebagai perintah untuk menyampaikan kepada orang lain dalam bentuk ucapan atau sikap betapa besar nikmat Allah yang telah diraihnya.Oleh karena itu para pemudik dan siapa saja hendaknya selalu merenungkan dan menghayati pesan Illahi dalam suart Al Hadid ayat 23 :”Agar kamu tidak terlalu berduka cita terhadap sesuatu yang telah luput dari padamu, sebaliknya jangan terlalu gembira dengan sukses yang telah kamu capai. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri “
Mudik, yang dirangkaian dengan berhalal bihalal merupakan sesuatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Yang beku dihangatkan, yang kusut diluruskan dan yang keruh dicerahkan. Itulah mudik, bernafaskan silaturahmi bernuansa halal bihalal, dan mudik berbasis tradisi khas bumi Indonesia.

Harapan

Mari bersatu dan bekerja keras, untuk Indonesia yang lebih damai, adil dan sejahtera. Bangkitlah bangsaku tersenyumlah negeriku. Jayalah kembali Indonesiaku……………………… ( sebagian iklan politik saat kampaye pemilu )
Hiruk pikuk kampanye dan pemilu legislatif telah berlalu. Perhitungan suara yang mendebarkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan telah usai. Perolehan suara dan jatah kursih sudah diketahui oleh masyarakat luas terutama oleh masing-masing kontestan pemilu. Dua momentum, kampanye dan pemilu legislatif berjalan dengan lancar, aman dan damai, walaupun KPU menuai protes dari sana sini. Harapan kita bersama pemilu presiden dan wakil presiden tanggal 5 Juli 2004 semoga berjalan lancar, tertip dan terkendali.
Mencermati semaraknya kampanye dam pemilu yang memunculkan tokoh-tokoh lokal maupun tokoh-tokoh nasional, memberikan harapan bahwa sesungguhnya banyak calon pemimpin di negeri tercinta ini. Para calon pemimpin tersebut tentu saja mempunyai cita-cita dengan motif yang beragam dengan latar belakang yang berbeda pula.
Sudah menjadi tabiat manusia dalam menjalani hidup ini, akan merasa bahagia apabila cita-citanya terwujud.
Perlu diingat oleh siapa saja yang mempunyai cita-cita termasuk juga para politisi, firman Allah dalam surat An Njm ayat 24 dan 25


“Apakah manusia akan memperoleh apa yang dicita-citakannya ?(Tidak ). Apa yang ada di dunia dan di akhirat kepunyaan Allah “.
Oleh karena itu setiap orang harus senantiasa siap mental, dalam menyikapi kenyataan, berhasil atau gagal, menang atau kalah. Sifat syukur dan sabar adalah kunci dari semua hasil yang diperoleh. Sukses itu bukan tujuan, namun sekedar harapan.
Pada waktu kampanye pemilu yang lalu, kita mendengar mungkin juga melihat tatkala para tokoh parpol dan para jurkam menyampaikan program-program mereka dalam rangka mencari dukungan. Masyarakat dipersilahkan menilai siapa diantara mereka yang paling layak dipilih. Sebagai warga negara yang baik , tidak ada alternatif lain kecuali menggunakan hak pilihnya sesuai aspirasi masing-masing.
Antara pemimpin dan masyarakat tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa agama masyarakat dinamai umat, sedangkah pemimpinnya adalah imam. Keduanya , imam dan umat terambil dari akar kata yang sama yang berarti “ sesuatu yang dituju” Pemimpin menjadi imam karena kepadanya mata dan harapan masyarakat tertuju. Di sisi lain, masyarakat dinamai umat karena aktifitas dan upaya –upaya imam harus tertuju demi kemaslahatan umat.
Kesamaan akar kedua kata di atas sekaligus mengisyaratkan bahwa imam adalah wakil masyarakat ,atau dalam bahasa tatanegara dinamakan mandataris, demikian menurut M.Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati. Selanjutnya beliau menyatakan karena imam atau mandataris diangkat oleh umat, maka ia berkewajiban membela seluruh umat, seluruh anggota masyarakat. Demikian pula sebagai umat mempunyai kewajiban untuk mentaati perintahnya, walaupun imam itu seorang bekas budak yang berkulit hitam.
Para waktu puteri Nabi Syuaib ditanya oleh sahabatnya tentang syarat-syarat apa yang dapat dijadikan dasar untuk memilih seorang pemimpin beliau menjawab “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat lagi terpercaya “
Pengangkatan Yusuf sebagai kepala bidang logistik kerajaan Mesir yang disampaikan oleh rajanya dan diabadikan pula dalam Al-Qur’an Yusuf ayat 54 :”Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah seorang yang kuat lagi terpercaya “.
Dalam salah satu sabdanya Rasulullah S.A.W pernah menyebut tiga dari sekian sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin, yaitu “ Ketaqwaan yang menangkal pelanggaran, kelapangan dada yang melahirkan simpati dan kemampuan memimpin sehingga menjadi bapak bagi anak-anaknya “
Harapan, semoga pemilu 5 Juli 2004 dapat menghasilkan kepemimpinan nasional yang dapat diterima oleh rakyat dan bangsa Indonesia. Serta mampu melaksanakan amanat sesuai janji-janji mereka pada waktu kampanye dulu.

Seyum

Rasulullah SAW pernah bersabda “ Sesungguhnya Allah itu ramah dan senang kepada keramahan dalam segala hal “ (muttafaqun alaihi ) Orang yang ramah biasanya murah senyum. Salah satu bentuk reaksi kejiwaan yang di tampilkan manusia adalah senyum. Dapat pula terjadi suatu reaksi kejiwaan timbul akibat dua keadaan yang saling berlawanan, misalnya menangis karena sedih dan menangis karena bahagia.
Wajah yang berseri-seri, ketawa riang , senyum yang menawan dan sendagurau berasal dari sumber yang sama. Semua itu muncul sebagai akibat dari pada watak, naluri dan tabiat manusia karena merasa jenuh dalam menghadapi masalah-masalah rutin yang menuntut keseriusan hati, kelelahan batin, kemudian melepaskan diri dari kemelut dengan mencari penawar hati.
Serius itu perlu, santai itu juga perlu. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW memberikan nasihat sebagai berikut :”Jangan terlalu membebani jiwamu dengan segala keseriusan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan dengan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta “( Sunan Abu Daud )
Para ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa humor akan memberikan pengaruh yang baik dan menyehatkan. Barangsiapa yang selalu hidup dalam alam fikiran yang ceria, riang dan humoris, maka akan senantiasa pula jauh dari penyakit, atau paling tidak mengurangi kemungkinan akan diserang sesuatu penyakit yang menyangkut penyakit kejiwaan
Apabila hari-hari dalam hidup ini senantiasa diwarnai oleh senyum yang timbul dari lubuk hati yang tulus, sangat di mungkinkan akan lebih kuat dalam menghadapi segala macam dinamika dan romantika perjuangan hidup yang sering penuh dengan onak dan duri ini
Senyum adalah kunci rahasia yang dapat diandalkan untuk membuka dialog yang menarik dan menyenangkan dengan orang lain. Senyum dapat mengundang rasa simpati dan dapat juga memperlancar komunikasi
Pribadi yang selalu dihiasi senyuman akan lebih mudah untuk mencapai keberhasilan dibandingkan dengan pribadi yang wajahnya keruh, masam dan cemberut. Tidak dapat diragukan lagi bahwa seseorang yang dalam keadaan hati yang jernih tenang dan tersungging senyuman akan mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk berfikir secara objektif serta akan dapat pula memilih kata-kata atau ucapan yang baik dan santun. Sehingga akhirnya akan mampu mengambil sikap maupun keputusan dengan cara yang lebih tepat pula.



Senyum dapat melatih otot-otot muka atau wajah bagi pertumbuhan dan perkembangan otot-otot tersebut. Senyuman dapat menimbulkan sikap otimisme, senyum sebagai pancaran hati yang tawadzu. Sebagai sinyal hati yang sabar dan tawakkal.
Sikap yang ramah dan murah senyum ketika berhubungan dengan orang lain dalam urusan bisnis, urusan dinas, dan urusan kemasyarakatan lainnya akan berdampak sangat positif. Senyum dan ramah itu penting dan perlu. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sesungguhnya keramah tamahan memperindah segala sesuatu dan bila dicabut dari padanya akan menjadikannya buruk “ (Riwayat Muslim )
Tersenyum , ramah dan tertawa dapat menjadikan keluarga bahagia. Humor dalam keluarga itu perlu untuk menciptakan suasana hangat yang akrab. Dokter bilang “ Tersenyum dan tertawa itu sehat “
Menurut Psikolog, humor selalu dibutuhkan dalam kehidupan. Ketika orang atau kelompok masyarakat dalam keadaan tertekan, tegang, humor dapat melancarkan kembali aliran darah, ide-ide produktifpun muncul. Apalagi , pada saat negeri tercinta ini dilanda krisis multidimensi, komoditas paling laku adalah yang berbau humor. Humor dapat membuat orang lepas dari tekanan dan memunculkan kembali Ide-ide segar untuk bangkit dari keterpurukan. Humor, tersenyum dan tertawa merupakan salah satu alat pembangkit kecerahan.

Perang Irak

Asap mengepul, Baghdad pekat. Gempuran bom tentara koalisi Amerika-Inggris menjadikan Bagdad penuh dengan kepulan asap. Hitam dan pekat. Tak pelak, langit di atas kota 1001 malam itu menggambarkan pekatnya peradaban. Haruskah perang menghanguskan sebuah peradaban suatu bangsa ? Akhirnya Ibu Kota Baghdad pun jatuh ke tangan tentara agressor pimpinan Amerika Serikat, keadaan kacau balau. Penjarahan merajalela. Secara teoritis, Pemerintahan Saddan Husein sudah tumbang, karena sudah tidak lagi mengontrol keadaan, khususnya di jantung kota yang selama ini menjadi symbol dan atribut kekuasaannya.
PBB tak berdaya. Unjuk rasa umat manusia di segala penjuru bumi tak di gubris. 3000 jin yang konon dikirim dari belahan pulau Jawa barang kali bukan sejenis jin prajurit, tak sanggup menghadapi senjata-senjata canggih. Oh…………… Baghdad………. Riwayatmu kini !
Mungkin peristiwa tersebut sebagai ‘shok therapy” dari yang Maha Kuasa ? Kenapa perang Irak tidak dapat dicegah?
Namun satu hal yang pasti perang teluk II itu disatu sisi, telah menjadi panggung theater pementasan hasrat-hasrat destruktif dan kegilaan para pimpinan pecandu perang. Pada sisi yang lain peristiwa itu menjadi panggung penderitaan orang-orang biasa yang sering tidak tahu menahu mengenai kompleksitas politik, ekonomi maupun psikologi di balik perang tersebut. Seolah-olah doa orang-orang yang anti perang tak terjawab.
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 253, terjemahanya kurang lebih sebagai berikut :” Sekiranya Allah mengendaki, tiadalah mereka bertempur ( berbunuh-bunuhan) . tetapi Allah dapat berbuat apa saja yang di kehendakiNya
Allah mampu membebaskan manusia dari api peperangan . Allah mampu mencegah pasukan AS dan sekutunya menyerang Irak, tetapi ternyata Allah tidak menghendaki itu. Orang-orang yang beriman yakin, bahwa tentu saja ada hikmah dibalik kehendakNya.
Jika Allah menghendaki tidak terjadi perang antara kekuatan koalisi dengan Irak atau perangan-perangan lainnya, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi niscaya dicabutnya kebebasan berkehendak dan bertindak yang dianugrahkan kepada umat manusia, dan diciptakanNya manusia seperti malaikat yang hanya tunduk dan patuh mengerjakan apa yang diperintahkanNya saja
Allah menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta, untuk itu Allah juga memberikan system yang utuh dalam penciptaan, pengarturan dan pemeliharaanNya. Salah satu Subsistemnya adalah persaingan antara individu, antar golongan, antar suku bangsa dan sebagainya. Termasuk juga adanya peperangan. Allah membiarkan terjadinya perang Irak VS AS, memang itu yang dikehendaki oleh masing-masing pihak. Allah memberikan kebebasan berkehendak dan bertindak kepada manusia
Allah mengatur bahkan merekayasa melalui hukum-hukum bermasyarakat yang ditetapkanNya, bahwa adanya aneka ragam suku, bangsa dengan kekuatannya masing-masing sehingga tercipta semacam keseimbangan. Dengan demikian tidak satu pihakpun dapat menguasai secara mutlak golongan lain, apalagi menguasai seluruh alam raya ini. Ambisi Presiden AS George W Bush meluluh lantakan bumi Irak sebagian berhasil. Bias-bias kehidupan pasca perang tiada lain adalah penderitaan anak-anak bangsa yang menjadi korban.
“ Tangan Allah “ yang didambakan, berkenan menghentikan perang di persada bumi Irak, tetapi yang terjadi perang tetap meletus. Orang bilang perang As dan sekutunya melawan Irak itu bagai Harimau melawan Kucing, bagaikan Durian melawan Mentimun
Sejarah umat manusia tidak pernah luput dari peperangan dan itu pula sebabnya sehingga golongan manusia di abad millennium ini mengenal negara adidaya, polisi dunia justru mendzolimi Negara lain yang berdaulat
Dalam Surat Al Baqarah ayat 251 Allah mengingatkan :” Sekiranya Allah tidak membela ( kaum yang benar ) untuk mengalahkan ( kaum yang aniyaya ). niscaya rusak binasalah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas alam semesta “
Melalui peperangan, Allah memisahkan yang buruk dari yang baik menjadikan yang buruk bergabung satu dengan lainnya, lalu kesemuanya dikumpulkan dan dimasukkan ke neraka Jahanam. Di samping itu juga menyiksa yang durhaka, serta melegakan hati orang-orang yang mukmin ( yang pernah dianiaya) dengan harapan semoga yang durhaka menjadi tahu diri.

Memaafkan orang lain

Kata maaf memang mudah diucapkan dan perlu penghayatan, namun bagi orang tertentu kadang berat untuk minta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat. Kesalahan dapat dilakukan oleh siapapun dan di manapun, baik kesalahan kepada Allah maupun kepada sesama makhluk (termasuk bangsa). Keengganan ini mungkin disebabkan adanya anggapan dia memiliki kelebihan (kekuasaan,wibawa,keturunan,kekayaan) dari pada yang lain.
Di samping itu ada pula orang yang justru tidak mau memaafkan orang lain karena demdam yang mendalam, fanatisme agama maupun politik serta masalah kepangkatan dan lain-lain. Sikap seperti itu mungkin sekali karena belum disadarinya akan makna dan manfaat minta maaf dan memaafkan. Perbedaan agama,partai politik, suku maupun bahasa tidak akan menimbulkan kerusuhan yang berlarut-larut apabila ada sikap saling menghormati dan pengakuan adanya perbedaan di antara kita. Dalam hidup ini memang ada beberapa hal terpaksa berbeda. Di antara kita memang beda dalam selera makan, pakaian,rumah,kendaraan dan lain-lain. Dengan keanekaragaman itulah hidup ini menjadi harmonis dan dinamis. Adanya perbedaan membuat hidup ini saling mengisi dan tenggang rasa yang akhirnya menjadi kehidupan yang damai. Islam mengajarkan kerukunan dan diingatkan untuk tidak saling mengganggu. Dengan kerukunan akan tercipta keharmonisan dan kesejahteraan hidup. Di samping itu Islam juga memerintahkan untuk selalu memaafkan termasuk kepada orang-orang yang pernah atau sedang memusuhi kita maupun orang-orang yang tidak sependapat dengan kita. Bahkan diingatkan agar kebencian kita kepada suatu kaum/golongan jangan sampai membuat kita tidak berlaku adil, seperti yang ditegasnya Allah dalam firmanNya dalam surat Al-Maidah ayat 8.

Orang yang berbuat adil dan memaafkan orang lain termasuk orang yang mulia. Sebab dia tidak melampiaskan balas dendam atau sakit hati kepada orang lain. Orang seperti ini mendapat kedudukan tinggi menurut pandangan Allah dan dihormati masyarakat serta disegani pihak musuh. Minta maaf dan memaafkan kadang berat bagi orang-orang tertentu, namun teladan yang baik adalah pada diri Rasulullah SAW. Beliau telah menunjukkan kebesaran jiwanya,keagungan,kewibawaan dan kehormatan beliau antara lain dengan memaafkan orang yang akan membunuhnya yakni Da’tsur dan Zainab binti AlHarits. Disebutkan dalam suatu kisah bahwa Zainab pernah melakukan usaha pembunuhan terhadap Rasulullah dengan racun. Zainab yang isteri seorang tokoh Yahudi ini membubuhkan racun pada makanan yang disuguhkan kepada Rasulullah yang saat itu dimakan bersama Bisyr bin Bara’. Saat itu Bisyr sempat menelan makanan itu lalu beberapa saat kemudian meninggal. Sedang nabi Muhammad SAW baru pada tahap mengunyah lalu memuntahkannya lalu mengatakan bahwa makanan itu memberitahukan kepada beliau bahwa dia beracun. Setelah kejadian itu Zainab dipanggil oleh nabi dan ditanya:”Mengapa engkau sampai hati melakukan peracunan itu?” Kemudian wanita jahat itu menjawab:”Kiranya bukan rahasia lagi bahwa kaumku ingin membunuh tuan. Apabila tuan seorang raja pasti sudah wafat kena racun tadi. Akan tetapi bila tuan seorang nabi, maka tidak akan wafat, sebab tuan pasti diberitahu oleh Allah bahwa makanan itu beracun. Nyatanya demikian, karena tuan sebagai Nabi, maka tuan selamat.” Kemudian Rasulullah memaafkan dan melepaskan wanita kejam tadi. Karena pemberian maaf tadi, maka wanita Yahudi itu akhirnya masuk Islam dengan kesadaran tanpa paksaan.
Memaafkan orang lain termasuk tanda orang yang taqwa di samping tindakan yang lain seperti infak, menahan marah,serta mohon ampunan kepada Allah ketika berbuat salah atau menganiaya diri sendiri. Apabila mereka itu mampu melaksanakannya, maka Allah akan memberikan maghfirah dan mendapatkan balasan surga di hari kemudian.

Marah pada saat dan kesempatan yang tepat dapat menunjukkan kewibawaan dan memperkokoh kekuasaan. Akan tetapi apabila salah sasaran dan keliru waktu, marah akan menurunkan kewibawaan. Orang yang sering marah pada suatu waktu kok tidak marah, akan dikatan kok tumben tidak marah.

Pada suatu ketika ada seseorang menghadap kepada Rasulullah dan bertanya:”Apakah agama itu?” Nabi menjawab:”Budi pekerti yang baik”.Kemudian orang itu datang lagi tiga kali dari arah kiri,kanan dan belakang dan menanyakan hal yang sama. Nabipun menjawab yang sama bahwa agama adalah budi pekertiyang baik. Selanjutnya pada pertanyaan yang terakhir Nabi menjawab bahwa Agama itu ialah Jangan marah (HR Muhammad bin Nashr dari Abu Al ‘Ala’ bin Syuhair).
Di samping itu untuk menciptakan kerukunan dan agar jurang kesenjangan tidak semakin lebar, maka bagi mereka yang berkelebihan (harta,ilmu,kekuatan,kekuasaan) hendaknya mau memberikan sebagian kepada orang lain. Sebab adanya permusuhan terselubung mungkin disebabkan yang berkuasa angkuh dan tidak mau menyapa yang lemah. Merebaknya perampokan dan pencurian mungkin terpicu oleh kebakhilan si kaya yang tidak perduli kepada fakir miskin. Mereka malah pamer kekayaan dan congkak di mata orang-orang yang sedang kesulitan mencari nafkah.
Para ilmuwan yang diberi kelebihan dalam ilmu sewajarnya apabila mau menularkan ilmunya kepada masyarakat untuk kesejahteraan mereka. Sebab hakekat ilmu pengetahuan itu adalah produktivitas dan bukan sekedar gelar tanpa kegiatan apapun.
Apabila dalam kehidupan yang beraneka ragam agama,suku,ras,aliran politik dan tingkat pendidikan ini terjadi sikap saling menghormati,mampu menahan marah, saling memaafkan dan yang kuat mau membantu yang lemah, maka sudah barang tentu akan tercipta ketenteraman,kedamaian dan kerukunan. Perlu disadari kembali untuk bermasyarakat,berbangsa dan bernegara Indonesia yang satu.
Seseorang atau kelompok yang sedang berkuasa tak perlu sok kuasa dan mumpung kuasa lalu sewenang-wenang. Toh kekuasaan itu tidak abadi. Kiranya dapat direnungkan bahwa wayang itu kalu sudah masuk kotak tidak akan digubris oleh penonton/masyarakat. Rakyat kecil atau bawahanpun tak perlu menaruh dendam bila suatu ketika menerima perlakuan yang tidak adil. Yang jelas yang kuat wajib menyantuni yang lemah, si lemah perlu bersabar dan menyadari kondisi yang dialami saat ini. Kemudian dengan berjuang dan memohon kepada Allah semoga dengan ridla Allah akan terjadi perubahan nasib menjadi lebih baik.

Apabila terjadi konflik di antara kita,hendaknya segera disadari untuk saling memaafkan. Sungguh mulia hati yang suka memberi maaf,sangatlah dihormati oleh masyarakat danlawanpun berbalik mengaguminya. Allah akan memberikan kedudukan tinggi di sisiNya. Menciptakan kerukunan dapat dimulai dengan meniadakan saling dengki,saling mencurigai dan saling menghujat. Rasulullah mengingatkan dengan sabdanya yang artinya :”Jangan diantara kamu sekalian itu saling dengki,saling intip, maupun saling membenci/marah,dan jangan saling bertolak belakang, dan jangan pula sebagian kamu itu membeli sesuatu di atas (harga) pembelian yang lain, jadilah kamu sekalian hamba- hamba Allah yang bersaudara”
Dengan adanya saling memaafkan insya Allah kita betul-betul jadi hamba Allah yang saling bersaudara dan hidup bahagia dunia akhirat. Amin.