Selasa, 26 Agustus 2008

Harapan

Mari bersatu dan bekerja keras, untuk Indonesia yang lebih damai, adil dan sejahtera. Bangkitlah bangsaku tersenyumlah negeriku. Jayalah kembali Indonesiaku……………………… ( sebagian iklan politik saat kampaye pemilu )
Hiruk pikuk kampanye dan pemilu legislatif telah berlalu. Perhitungan suara yang mendebarkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan telah usai. Perolehan suara dan jatah kursih sudah diketahui oleh masyarakat luas terutama oleh masing-masing kontestan pemilu. Dua momentum, kampanye dan pemilu legislatif berjalan dengan lancar, aman dan damai, walaupun KPU menuai protes dari sana sini. Harapan kita bersama pemilu presiden dan wakil presiden tanggal 5 Juli 2004 semoga berjalan lancar, tertip dan terkendali.
Mencermati semaraknya kampanye dam pemilu yang memunculkan tokoh-tokoh lokal maupun tokoh-tokoh nasional, memberikan harapan bahwa sesungguhnya banyak calon pemimpin di negeri tercinta ini. Para calon pemimpin tersebut tentu saja mempunyai cita-cita dengan motif yang beragam dengan latar belakang yang berbeda pula.
Sudah menjadi tabiat manusia dalam menjalani hidup ini, akan merasa bahagia apabila cita-citanya terwujud.
Perlu diingat oleh siapa saja yang mempunyai cita-cita termasuk juga para politisi, firman Allah dalam surat An Njm ayat 24 dan 25


“Apakah manusia akan memperoleh apa yang dicita-citakannya ?(Tidak ). Apa yang ada di dunia dan di akhirat kepunyaan Allah “.
Oleh karena itu setiap orang harus senantiasa siap mental, dalam menyikapi kenyataan, berhasil atau gagal, menang atau kalah. Sifat syukur dan sabar adalah kunci dari semua hasil yang diperoleh. Sukses itu bukan tujuan, namun sekedar harapan.
Pada waktu kampanye pemilu yang lalu, kita mendengar mungkin juga melihat tatkala para tokoh parpol dan para jurkam menyampaikan program-program mereka dalam rangka mencari dukungan. Masyarakat dipersilahkan menilai siapa diantara mereka yang paling layak dipilih. Sebagai warga negara yang baik , tidak ada alternatif lain kecuali menggunakan hak pilihnya sesuai aspirasi masing-masing.
Antara pemimpin dan masyarakat tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa agama masyarakat dinamai umat, sedangkah pemimpinnya adalah imam. Keduanya , imam dan umat terambil dari akar kata yang sama yang berarti “ sesuatu yang dituju” Pemimpin menjadi imam karena kepadanya mata dan harapan masyarakat tertuju. Di sisi lain, masyarakat dinamai umat karena aktifitas dan upaya –upaya imam harus tertuju demi kemaslahatan umat.
Kesamaan akar kedua kata di atas sekaligus mengisyaratkan bahwa imam adalah wakil masyarakat ,atau dalam bahasa tatanegara dinamakan mandataris, demikian menurut M.Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati. Selanjutnya beliau menyatakan karena imam atau mandataris diangkat oleh umat, maka ia berkewajiban membela seluruh umat, seluruh anggota masyarakat. Demikian pula sebagai umat mempunyai kewajiban untuk mentaati perintahnya, walaupun imam itu seorang bekas budak yang berkulit hitam.
Para waktu puteri Nabi Syuaib ditanya oleh sahabatnya tentang syarat-syarat apa yang dapat dijadikan dasar untuk memilih seorang pemimpin beliau menjawab “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat lagi terpercaya “
Pengangkatan Yusuf sebagai kepala bidang logistik kerajaan Mesir yang disampaikan oleh rajanya dan diabadikan pula dalam Al-Qur’an Yusuf ayat 54 :”Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah seorang yang kuat lagi terpercaya “.
Dalam salah satu sabdanya Rasulullah S.A.W pernah menyebut tiga dari sekian sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin, yaitu “ Ketaqwaan yang menangkal pelanggaran, kelapangan dada yang melahirkan simpati dan kemampuan memimpin sehingga menjadi bapak bagi anak-anaknya “
Harapan, semoga pemilu 5 Juli 2004 dapat menghasilkan kepemimpinan nasional yang dapat diterima oleh rakyat dan bangsa Indonesia. Serta mampu melaksanakan amanat sesuai janji-janji mereka pada waktu kampanye dulu.

Tidak ada komentar: